Saat Kenyang Pun Kita Masih Mengingat-Nya

Desain tanpa judul (3)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Komisi bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi.

Ada saat-saat ketika iman diuji bukan dalam lapar, tetapi dalam kenyang. Hari tasyrik mengajarkan itu. Tiga hari setelah Idul Adha sering kita lewatkan tanpa kesadaran. Padahal di situlah Allah mendidik kita dengan cara yang lembut. Kita diminta makan, minum, dan berdzikir. Tiga aktivitas yang tampak biasa. Tapi justru di sanalah letak kedalaman maknanya.

Rasulullah ﷺ menyebut hari tasyrik sebagai hari makan, minum, dan mengingat Allah. Dalam riwayat itu, kita melihat bahwa spiritualitas Islam tidak selalu hadir dalam bentuk pengorbanan yang berat. Kadang ia hadir dalam kenikmatan yang disadari. Kita makan, tetapi hati kita terhubung kepada Pemberi rezeki. Kita minum, tetapi jiwa kita bersyukur. Inilah bentuk ibadah yang sering kita lupakan.

Kita terbiasa memaknai ibadah sebagai sesuatu yang berat. Puasa, bangun malam, menahan diri. Semua itu penting. Tetapi hari tasyrik mengajarkan keseimbangan. Bahwa menikmati nikmat dengan kesadaran juga bagian dari iman. Jika dalam lapar kita bisa mengingat Allah, mengapa dalam kenyang kita justru lupa?

Di sinilah kurban menemukan kelanjutannya. Kurban bukan hanya peristiwa penyembelihan. Ia adalah pendidikan jiwa yang berlanjut. Daging yang kita bagikan menjadi jembatan kasih sayang. Ia menyentuh mereka yang jarang menikmati kecukupan. Ia menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa ada tangan-tangan yang peduli.

Bayangkan seorang ibu yang menerima daging kurban. Ia memasaknya dengan sederhana. Anak-anaknya makan dengan gembira. Di meja kecil itu, ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka. Ada rasa dihargai. Ada rasa diingat. Kurban telah menjadi bahasa cinta yang nyata.

Hari tasyrik memperpanjang bahasa cinta itu. Kita tidak hanya memberi. Kita juga diingatkan untuk bersyukur. Dalam setiap suap, ada pesan bahwa hidup ini adalah pemberian. Kita tidak memiliki apa-apa secara mutlak. Semua adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Takbir yang kita ucapkan menguatkan kesadaran itu. Allahu Akbar. Allah lebih besar dari apa yang kita miliki. Lebih besar dari rasa aman yang kita bangun. Lebih besar dari ketakutan yang kita pelihara. Takbir adalah cara kita menata ulang hati.

Dalam kehidupan sosial, hari tasyrik mengajarkan solidaritas yang sunyi. Tidak banyak kata. Tidak banyak teori. Hanya tindakan sederhana. Memberi. Menerima. Bersyukur. Tetapi dari situlah masyarakat yang sehat dibangun. Dari kepedulian yang tidak dipaksakan.

Rasulullah ﷺ melarang puasa pada hari-hari ini. Seakan beliau ingin menegaskan bahwa agama ini tidak memusuhi kebahagiaan. Islam tidak menolak kenikmatan. Ia hanya mengarahkan agar kenikmatan itu tidak membuat kita lupa. Di situlah letak kedewasaan iman.

Hari tasyrik adalah cermin. Ia menunjukkan siapa kita sebenarnya. Apakah kita masih mengingat Allah ketika kenyang. Apakah kita masih peduli ketika cukup. Apakah kita masih berbagi ketika memiliki.

Jika tiga hari ini kita jalani dengan kesadaran, maka kurban tidak berhenti sebagai ritual. Ia hidup dalam diri kita. Ia menjadi cara kita memandang hidup. Dan mungkin, di situlah kita mulai belajar mencintai Allah dengan cara yang lebih utuh.

Berita Terbaru

Layanan Informasi

Gallery Foto

Follow Me

Bagikan

WhatsApp
Facebook
Email
Telegram

Majelis Ulama Indonesia Kota Sukabumi

Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111