Sabar sebagai Proses Menjadi

Desain tanpa judul (5)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Pengurus MUI Kota Sukabumi

Sabar sering dipahami secara sederhana sebagai kemampuan menahan diri. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sabar adalah konsep yang kaya makna dan memiliki dimensi yang luas dalam ajaran Islam. Ia tidak hanya terkait dengan sikap pasif, tetapi juga mencerminkan kekuatan aktif dalam mengelola diri, menghadapi realitas, dan menjaga orientasi hidup.

عن أبي سَعيد سعدِ بن مالكِ بنِ سنانٍ الخدري رضي الله عنهما: أَنَّ نَاسًا مِنَ الأَنْصَارِ سَألوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فَأعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَألوهُ فَأعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِندَهُ، فَقَالَ لَهُمْ حِينَ أنْفْقَ كُلَّ شَيءٍ بِيَدِهِ: ((مَا يَكُنْ عِنْدي مِنْ خَيْر فَلَنْ أدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ. وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأوْسَعَ مِنَ الصَّبْر)). مُتَّفَقٌ عليه.

Dari Abu Said iaitu Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ada beberapa orang dari kaum Anshar meminta – sedekah – kepada Rasulullah S.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda:
“Apa saja kebaikan – yakni harta – yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan ku simpan sehingga tidak ku berikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barang siapa yang menjaga diri – dari meminta- minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah Swt dan barang siapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah Swt – kaya hati dan jiwa – dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah Swt.
Tiada seorang pun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya – daripada karunia kesabaran itu.”
(Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini menempatkan sabar sebagai sesuatu yang diperoleh melalui proses. Kata “yataṣabbar” yang digunakan Nabi mengandung makna upaya sungguh-sungguh untuk menjadikan diri bersabar. Artinya, sabar bukan hanya keadaan, tetapi juga usaha. Dari sini dapat dipahami bahwa sabar adalah hasil interaksi antara kehendak manusia dan pertolongan Tuhan.

Lebih jauh, hadis ini juga mengaitkan sabar dengan sikap ‘iffah dan istiġnā’. ‘Iffah adalah kemampuan menjaga diri dari ketergantungan kepada orang lain. Sedangkan istiġnā adalah perasaan cukup dalam hati. Kedua sikap ini menunjukkan bahwa sabar berkaitan erat dengan kemandirian batin. Seseorang yang sabar tidak mudah goyah oleh kekurangan, karena ia memiliki kekayaan dalam dirinya.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih luas tentang buah dari kesabaran itu.

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ, سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.’ maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.”
[QS. Ar-Ra’du/13: 23-24]

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran menjadi sebab datangnya penghormatan ilahi. Ungkapan “bimā ṣabartum” menegaskan bahwa apa yang mereka peroleh adalah konsekuensi dari kesabaran yang mereka bangun selama hidup di dunia.

Demikian pula dalam firman-Nya:

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam syurga) atas kesabaran mereka…
[QS. Al-Furqân : 75]

Kata “al-ghurfah” dalam ayat ini menunjuk pada tempat yang tinggi dan mulia. Ini memberi isyarat bahwa kesabaran memiliki dimensi vertikal, yakni mengangkat derajat manusia. Sabar bukan hanya membuat seseorang mampu bertahan, tetapi juga mengantarkannya pada tingkat kemuliaan yang lebih tinggi.

Namun, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa kesabaran bukanlah sesuatu yang mudah diraih.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar. dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”
(QS. Fushshilat : 35)

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran adalah bagian dari keberuntungan besar. Ia tidak datang tanpa kesiapan jiwa. Diperlukan latihan, kesadaran, dan kesungguhan untuk mencapainya.

Dalam perspektif ini, sabar mencakup beberapa aspek penting. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan. Ini menuntut konsistensi dan komitmen. Kedua, sabar dalam menjauhi larangan. Ini menuntut pengendalian diri. Ketiga, sabar dalam menghadapi ujian. Ini menuntut keteguhan hati. Keempat, sabar dalam menerima nikmat. Ini menuntut kemampuan untuk tetap bersyukur tanpa terjebak dalam kelalaian.

Dengan demikian, sabar adalah fondasi bagi seluruh dimensi kehidupan seorang mukmin. Ia menjadi penopang dalam menjalankan perintah, penjaga dalam menjauhi larangan, dan penyeimbang dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Jika sabar dipahami sebagai proses menjadi, maka setiap pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyulitkan, sesungguhnya adalah ruang latihan. Di sanalah manusia dibentuk. Di sanalah kualitas dirinya ditentukan.

Karena itu, sabar bukan sekadar menunggu. Ia adalah sikap aktif dalam menjaga arah hidup, sambil terus berharap pada pertolongan Allah. Dalam sabar, terdapat ketenangan, kekuatan, dan harapan yang tidak mudah goyah oleh keadaan.

Wallahu a’lamu

Berita Terbaru

Layanan Informasi

Gallery Foto

Follow Me

Bagikan

WhatsApp
Facebook
Email
Telegram

Majelis Ulama Indonesia Kota Sukabumi

Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111