Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Pengurus MUI Kota Sukabumi
Idul Adha selalu datang dengan gema takbir yang mengguncang langit batin kita. Namun, di tengah gema itu, saya sering bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana kurban menyentuh hidup kita, bukan hanya tangan kita.
Kita menyembelih hewan. Kita membagi daging. Kita merasa telah menunaikan satu kewajiban sosial dan spiritual. Tapi apakah kita juga menyembelih kesombongan yang diam-diam tumbuh dalam diri? Apakah kita rela mengorbankan ego, kepentingan pribadi, dan rasa ingin selalu diutamakan?
Kisah Ibrahim bukan sekadar cerita kepatuhan. Ia adalah cermin. Ibrahim tidak sedang diuji dengan sesuatu yang tidak ia cintai. Justru sebaliknya. Ia diuji dengan yang paling ia cintai. Di situlah letak kualitas iman. Bukan pada apa yang mudah dilepas, tapi pada apa yang paling sulit ditinggalkan.
Di titik ini, saya merasa kurban kita sering berhenti pada kulit. Kita lebih sibuk memastikan hewan terbaik, tapi lupa memperbaiki niat terdalam. Kita bangga bisa berkurban setiap tahun, tapi abai pada tetangga yang hidupnya sempit sepanjang tahun.
Ada ironi yang pelan tapi nyata. Di satu sisi, daging kurban melimpah dalam satu hari. Di sisi lain, ketimpangan sosial berjalan sepanjang tahun tanpa banyak berubah. Kurban seharusnya menjadi kritik diam bagi kita. Bahwa kepedulian tidak boleh musiman.
Saya membayangkan, bagaimana jika semangat kurban ini diperpanjang menjadi gaya hidup. Kita belajar memberi tanpa menunggu momen. Kita berbagi tanpa menunggu perayaan. Kita hadir untuk sesama bukan karena tradisi, tapi karena kesadaran.
Kurban juga mengajarkan kejujuran batin. Allah tidak butuh darah dan daging. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan. Artinya, ukuran ibadah tidak terletak pada apa yang tampak, tapi pada apa yang tersembunyi di dalam hati.
Di sinilah kita diuji. Apakah kita berkurban untuk Allah, atau untuk pengakuan sosial. Apakah kita memberi karena iman, atau karena ingin dilihat sebagai orang yang dermawan.
Idul Adha seharusnya mengguncang zona nyaman kita. Ia mengajak kita keluar dari diri yang sempit menuju diri yang lebih luas. Dari sekadar ritual menuju makna. Dari kebiasaan menuju kesadaran.
Maka, jika hari ini kita berkurban, mari kita tanyakan satu hal sederhana. Apa yang benar-benar kita korbankan. Jika jawabannya hanya hewan, mungkin kita perlu mengulang pelajaran dari Ibrahim. Jika jawabannya adalah ego, keserakahan, dan ketidakpedulian, di situlah kurban menemukan maknanya.






Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
