Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Dosen, Peneliti dan Pegiat Literasi tinggal di Sukabumi
Bencana kembali menyapa negeri ini. Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara merasakannya hampir bersamaan. Air meluap. Tanah bergerak. Rumah runtuh. Nyawa melayang. Di layar gawai, angka korban terus bertambah. Di lapangan, duka bekerja tanpa suara.
Di saat seperti ini, pertanyaan lama muncul lagi. Apa makna bencana. Bagaimana seharusnya orang beriman menyikapinya. Di sinilah perspektif keulamaan menjadi penting. Bukan untuk memberi vonis. Bukan untuk menenangkan dengan kalimat kosong. Tapi untuk menuntun cara berpikir dan bersikap.
Ulama tidak pernah memandang musibah sebagai peristiwa tunggal. Ia selalu berdimensi ganda. Ada sisi langit. Ada sisi bumi. Ada kehendak Tuhan. Ada perbuatan manusia. Membaca bencana hanya dari satu sisi membuat kita timpang.
Dalam khazanah klasik, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa musibah adalah ujian hati. Bukan hanya bagi yang tertimpa. Tapi juga bagi yang menyaksikan. Apakah hati kita lembut atau justru keras. Apakah kita hadir atau memilih menjauh.
Di titik ini, adab menjadi kunci. Ulama mengajarkan adab sebelum tafsir. Menahan lisan dari menyebut azab. Menjaga pikiran dari menghakimi. Tidak semua musibah adalah hukuman. Tidak semua penderitaan lahir dari dosa personal. Menyederhanakan musibah menjadi vonis ilahi justru menutup pintu empati.
Ibnu Athaillah pernah menulis bahwa musibah bisa menjadi nikmat jika melahirkan kesadaran. Sebaliknya, nikmat bisa berubah menjadi bencana jika melahirkan kelalaian. Ukurannya bukan peristiwa. Ukurannya adalah dampak pada jiwa.
Maka pertanyaan pentingnya bukan mengapa mereka tertimpa. Tapi apa yang berubah pada kita. Apakah empati kita tumbuh. Apakah keserakahan kita berkurang. Apakah cara kita memperlakukan alam ikut berubah.
Perspektif keulamaan selalu mengaitkan bencana dengan tanggung jawab manusia. Al-Qur’an berbicara tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia. Ayat ini tidak berhenti sebagai bacaan. Ia menjadi cermin.
Ketika hutan ditebang tanpa kendali. Ketika sungai dipersempit. Ketika gunung dikeruk. Ketika tata ruang diabaikan. Ulama tidak menutup mata. Mereka menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap amanah. Alam bukan objek. Alam adalah titipan.
Dalam banyak pengajian, Quraish Shihab menekankan bahwa sunnatullah bekerja dengan hukum sebab akibat. Doa penting. Tapi ikhtiar ekologis tidak bisa diabaikan. Kesalehan spiritual harus sejalan dengan kesalehan sosial dan lingkungan.
Di Aceh, Sumbar, dan Sumut, bencana datang setelah hujan ekstrem. Tapi hujan bukan satu-satunya sebab. Ada faktor manusia yang lama diabaikan. Ulama yang jujur tidak akan berhenti pada narasi takdir. Mereka berani menyebut kelalaian kolektif.
Namun keberanian ini selalu dibarengi kasih sayang. Ulama tidak datang dengan tuduhan. Mereka hadir dengan ajakan. Ayo berbenah. Ayo mengubah arah. Ayo memperbaiki relasi dengan alam dan sesama.
Sikap ulama terhadap bencana juga tampak dalam praktik. Mereka turun ke lokasi. Menguatkan korban. Menggalang bantuan. Membuka dapur umum. Menggerakkan jamaah. Di sini, ilmu bertemu aksi.
Tradisi pesantren mengenal istilah muhasabah kolektif. Bencana dibaca sebagai momen evaluasi bersama. Bukan untuk mencari kambing hitam. Tapi untuk memperbaiki arah hidup. Apa yang salah dalam sistem. Apa yang perlu diubah dalam kebijakan. Apa yang harus diperbaiki dalam budaya.
Sayangnya, ruang publik kita sering bising. Ada yang cepat menuduh. Ada yang sibuk berdebat. Ada yang berlomba tampil paling religius. Ulama mengingatkan. Duka tidak butuh panggung. Korban tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh kehadiran.
Di era media sosial, empati mudah berubah menjadi konten. Ulama menguji keikhlasan kita dengan pertanyaan sederhana. Apakah kita membantu sebelum kamera menyala. Apakah kita peduli setelah berita hilang. Apakah solidaritas kita konsisten.
Bencana juga menguji kepemimpinan moral. Di saat krisis, suara ulama seharusnya menenangkan dan mengarahkan. Bukan memecah. Bukan memanaskan. Kata-kata mereka seharusnya menguatkan korban dan mengingatkan pengambil kebijakan.
Dalam sejarah Islam, ulama sering menjadi jembatan. Mereka menjembatani langit dan bumi. Doa dan kerja. Zikir dan kebijakan. Mereka tidak memilih salah satu. Mereka merangkul keduanya.
Menyikapi bencana dengan perspektif keulamaan berarti menghindari sikap ekstrem. Tidak fatalistik. Tidak pula sok rasional. Kita mengakui kehendak Tuhan. Kita juga mengakui tanggung jawab manusia.
Di titik ini, iman tidak berhenti di masjid. Ia hadir di kebijakan tata ruang. Ia hadir di cara kita memperlakukan hutan. Ia hadir di keberpihakan pada korban. Inilah iman yang hidup.
Tulisan ini tidak hendak memberi jawaban tuntas. Ia hanya mengajak merenung. Apakah setelah bencana, kita benar-benar berubah. Atau kita hanya berduka sebentar lalu kembali lalai.
Ulama selalu mengingatkan. Musibah akan berlalu. Pertanyaannya, apakah pelajaran ikut tinggal. Jika tidak, bencana berikutnya hanya soal waktu.
Di hadapan duka Aceh, Sumbar, dan Sumut, kita diuji. Bukan pada seberapa fasih kita berbicara tentang takdir. Tapi pada seberapa serius kita memperbaiki diri dan sistem. Di situlah perspektif keulamaan menemukan maknanya.






Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
