Keteguhan yang Dianugerahkan: Menyiapkan Jawaban dengan Menjalani Iman

H. MULYAWAN

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Pengurus MUI Kota Sukabumi

Manusia sering kali mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang diperkirakannya akan datang. Seorang pelajar belajar karena ia mengetahui bahwa ujian menantinya. Seorang pekerja menyiapkan laporan karena ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam kehidupan sosial pun, kita sering menyusun jawaban sebelum pertanyaan diajukan.

Akan tetapi, ada pertanyaan yang sesungguhnya telah kita ketahui sejak sekarang, sementara persiapannya justru sering kita tunda. Pertanyaan itu berkaitan dengan perjalanan manusia setelah kehidupan dunia berakhir.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberikan gambaran tentang hal tersebut melalui hadis yang diriwayatkan oleh Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhumā:

عن البراءِ بن عازب رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((المُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ في القَبْرِ يَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا الله وَأنّ مُحَمّدًا رَسُول الله، فذلك قوله تَعَالَى: {يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَة})) [إبراهيم: 27]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
قال ابن عباس رضي الله عنهما: من دام على الشهادة في الدنيا يلقِّنه الله تعالى إياها في قبره.

Dari Al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhumā, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:

“Seorang Muslim apabila ditanya di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Swt dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah firman Allah Ta‘ālā: ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’”

Muttafaq ‘alaih
(HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā berkata:

“Barang siapa senantiasa teguh di atas syahadat ketika di dunia, Allah Ta‘ālā akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kuburnya.”

Hadis ini mengajak kita memahami bahwa kehidupan dunia dan akhirat bukanlah dua kenyataan yang sepenuhnya terpisah. Apa yang dijalani manusia di dunia memiliki kaitan dengan keadaan yang akan dihadapinya kelak. Karena itu, jawaban di alam kubur bukan sekadar susunan kata yang perlu dihafalkan, tetapi merupakan buah dari keyakinan yang telah hidup dalam jiwa.

Seseorang dapat saja menghafal banyak hal, tetapi hafalan belum tentu menjelma menjadi kesadaran. Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan menghayati. Syahadat dapat diucapkan oleh lisan, tetapi tauhid seharusnya berakar di dalam hati dan kemudian memancar dalam perilaku.

Allah Swt berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah Swt meneguhkan orang- orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”Dan Allah menyesatkan orang- orang yang dzalim dan Allah Swt berbuat apa yang Dia kehendaki.”

(QS. Ibrahim : 27)

Perhatian kita dapat tertuju kepada ungkapan *يُثَبِّتُ اللَّهُ* (yutsabbitullāh), “Allah meneguhkan.” Keteguhan, menurut ayat ini, bukan semata-mata hasil kemampuan manusia. Ada anugerah dan pertolongan Allah di dalamnya.

Namun, anugerah Allah bukan berarti manusia tidak perlu berusaha. Justru ayat tersebut menyebut orang-orang beriman sebagai pihak yang memperoleh keteguhan itu. Dengan kata lain, manusia dituntut untuk membuka dirinya terhadap iman, memeliharanya, dan menghidupkannya dalam perjalanan sehari-hari. Pertolongan Allah hadir dalam kehidupan manusia yang terus berusaha mengarahkan dirinya kepada-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, keteguhan tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Kadang-kadang keteguhan justru terlihat dalam pilihan-pilihan yang tampaknya kecil. Seseorang tetap jujur ketika peluang untuk berbuat curang terbuka. Ia menahan diri ketika kemarahan dapat dengan mudah dilampiaskan. Ia tetap berbuat baik meskipun tidak memperoleh penghargaan.

Pada saat seperti itulah iman sedang menemukan bentuk nyatanya.

Kalimat *لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ* bukan hanya pernyataan teologis yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Kalimat itu mengandung konsekuensi yang luas. La ilaha illallah mengarahkan manusia untuk menempatkan Allah sebagai tujuan tertinggi dan sumber pengabdian. Sementara pengakuan bahwa Muhammad adalah Rasulullah menuntut kesediaan untuk menjadikan tuntunan beliau sebagai jalan dalam menjalani kehidupan.

Tauhid, dengan demikian, tidak berhenti pada penolakan terhadap penyembahan selain Allah. Ia juga membebaskan manusia dari penghambaan yang berlebihan kepada apa pun yang bersifat sementara. Harta dapat dicari, tetapi tidak boleh menguasai hati. Jabatan dapat diemban, tetapi tidak boleh melahirkan kesombongan. Manusia dapat dihormati, tetapi penghormatan itu tidak boleh menjadikan kita kehilangan kebebasan moral.

Betapa banyak kegelisahan manusia sebenarnya muncul karena ia terlalu menggantungkan dirinya kepada sesuatu yang tidak kekal. Ketika yang sementara itu berubah atau hilang, ia pun kehilangan pijakan. Padahal, seorang yang menjadikan Allah sebagai sandaran utama memiliki tempat kembali ketika berbagai sandaran duniawi tidak lagi mampu menopangnya.

Di sinilah makna keteguhan iman menjadi penting.

Keteguhan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kelemahan. Tidak pula berarti seorang mukmin tidak pernah ragu atau keliru. Manusia, sebagai manusia, memiliki keterbatasan. Keteguhan adalah kemampuan untuk tidak menjadikan kelemahan sebagai alasan meninggalkan jalan Allah. Ketika tergelincir, ia bertobat. Ketika lupa, ia berusaha mengingat kembali. Ketika lemah, ia memohon kekuatan.

Maka, istiqamah bukan keadaan yang sekali dicapai lalu selesai. Ia adalah usaha yang terus diperbaharui.

Perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā memberikan pelajaran penting dalam konteks ini. Barang siapa senantiasa berada di atas syahadat dalam kehidupannya di dunia, Allah akan menuntunnya untuk mengucapkannya di dalam kubur. Ada hubungan antara kebiasaan hidup dan keadaan batin. Apa yang terus-menerus dilakukan manusia akan, sedikit demi sedikit, membentuk dirinya.

Lisan yang dibiasakan dengan kebaikan akan lebih mudah terjaga. Hati yang dibiasakan mengingat Allah akan lebih peka terhadap kelalaian. Sebaliknya, kebiasaan buruk yang terus dipelihara dapat menjadikan sesuatu yang salah terasa biasa.

Karena itu, manusia perlu selalu memperhatikan apa yang sedang dibiasakannya. Sesungguhnya kita bukan hanya menjalani kebiasaan, tetapi kebiasaan juga sedang membentuk kita. Dalam pengertian ini, kehidupan adalah proses pendidikan yang berlangsung setiap hari.

Doa yang baik untuk terus diamalkan berbunyi:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Doa tersebut mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar, yaitu kesadaran tentang perubahan hati manusia. Tidak ada seorang pun yang sepantasnya merasa terlalu yakin bahwa dirinya akan selalu berada dalam keadaan yang sama. Hati dapat berubah, dan karena itulah manusia membutuhkan penjagaan Allah.

Memohon keteguhan bukan tanda bahwa iman kita lemah. Sebaliknya, ia adalah pengakuan bahwa iman merupakan amanah yang harus terus dijaga. Orang yang menyadari kemungkinan dirinya lemah akan lebih terdorong untuk berhati-hati.

Pada akhirnya, hadis ini membawa kita kepada satu kesimpulan sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan: kehidupan akhirat disiapkan sejak kehidupan dunia. Jawaban yang diharapkan keluar kelak harus lebih dahulu menjadi keyakinan yang hidup sekarang.

Karena itu, jangan biarkan syahadat hanya berhenti sebagai kalimat yang kita kenal. Jadikan ia panduan ketika menentukan pilihan, ketika berhadapan dengan godaan, ketika memiliki kekuasaan, dan ketika tidak memiliki siapa pun selain Allah untuk menjadi tempat bersandar.

Kita memang tidak mengetahui kapan perjalanan dunia ini berakhir. Tetapi kita mengetahui bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menyiapkan hati. Setiap ibadah adalah kesempatan untuk kembali. Setiap kesalahan yang disadari adalah kesempatan untuk bertobat. Dan setiap kali kita mengucapkan kalimat tauhid dengan kesadaran yang tulus, kita sesungguhnya sedang memperbaharui arah perjalanan kita.

Semoga Allah Swt meneguhkan kita dengan *الْقَوْلِ الثَّابِتِ*, ucapan yang teguh, bukan hanya pada lisan, tetapi juga dalam hati dan amal. Semoga ketauhidan yang kita ucapkan menjelma menjadi ketauhidan yang kita jalani. Sebab, yang paling kita harapkan pada akhirnya bukanlah kemampuan untuk sekadar mengetahui jawaban, tetapi pertolongan Allah agar dapat menghayati dan mengucapkannya pada saat jawaban itu benar-benar dibutuhkan. Mudah-mudahan, pertolongan itu dianugerahkan kepada kita semua, meski dalam perjalanan hidup yang kadang begitu mudah membuat hati kita lupa dan lalai.

Wallahu ‘alamu

Berita Terbaru

Layanan Informasi

Gallery Foto

Follow Me

Bagikan

WhatsApp
Facebook
Email
Telegram

Majelis Ulama Indonesia Kota Sukabumi

Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111