Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Dosen, Peneliti dan Pegiat Literasi tinggal di Sukabumi
Menjelang Idul Fitri 1447 H, suasana yang kita lihat hampir selalu sama. Jalanan padat, arus mudik meningkat, pusat perbelanjaan penuh. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional, dan momen Ramadan hingga Lebaran selalu mendorong lonjakan belanja, terutama pada sektor makanan, transportasi, dan ritel. Ini fakta sosial yang tidak bisa diabaikan.
Namun di tengah geliat itu, saya merasa perlu berhenti sejenak. Ada pertanyaan yang layak diajukan secara jujur. Apakah Idul Fitri benar menjadi momentum kembali kepada fitrah, atau justru bergeser menjadi perayaan simbolik yang berulang setiap tahun?
Al-Qur’an memberikan arah yang sangat jelas tentang tujuan Ramadan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan sekadar identitas spiritual, tetapi kualitas diri yang tercermin dalam perilaku. Ia menyentuh kejujuran, pengendalian diri, dan kepekaan sosial.
Dengan demikian, Idul Fitri seharusnya menjadi hasil dari proses itu. Bukan sekadar penanda berakhirnya puasa, tetapi indikator keberhasilan transformasi diri. Kata “fitri” sendiri mengandung makna kembali pada keadaan asal manusia yang bersih.
Rasulullah SAW juga memberikan ukuran yang sangat tegas. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun dalam riwayat lain, Nabi juga mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Pesan ini jelas. Puasa tidak otomatis mengubah seseorang. Ada kualitas yang menentukan.
Di titik ini, realitas sosial menjadi penting untuk dibaca secara kritis. Lonjakan konsumsi menjelang Lebaran sering kali tidak lagi sekadar kebutuhan, tetapi juga terkait dengan simbol sosial. Baju baru, hidangan berlebih, dan gaya hidup konsumtif menjadi bagian dari budaya yang dianggap “normal”.
Padahal, jika kita merujuk pada teladan Rasulullah ﷺ, kesederhanaan justru menjadi ciri utama. Dalam banyak riwayat, beliau merayakan Idul Fitri dengan penuh kegembiraan, tetapi tanpa berlebihan. Bahkan dalam konteks makan dan berpakaian, prinsip keseimbangan selalu dijaga.
Al-Qur’an sendiri mengingatkan dalam Surah Al-A’raf ayat 31, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang dijadikan rujukan dalam praktik sosial saat Lebaran.
Saya melihat ada jarak antara nilai normatif dan praktik empiris. Ramadan mengajarkan pengendalian diri, tetapi Lebaran sering diisi dengan pelampiasan. Ramadan melatih empati kepada yang lemah, tetapi Lebaran kadang justru memperlihatkan kesenjangan melalui budaya pamer.
Tradisi saling memaafkan juga perlu kita refleksikan. Secara ajaran, memaafkan adalah bagian dari akhlak mulia. Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 134 menyebutkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.
Namun dalam praktik, ucapan “mohon maaf lahir batin” sering berhenti pada formalitas. Tidak diikuti dengan perubahan sikap. Padahal para ulama menegaskan bahwa taubat dan perbaikan diri harus disertai komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah adanya perubahan dalam diri setelah ibadah dilakukan. Jika seseorang kembali pada kebiasaan lama tanpa perbaikan, maka ia perlu mengevaluasi kualitas ibadahnya.
Pandangan ini diperkuat oleh Ibn Taymiyyah yang menyatakan bahwa hakikat ibadah adalah melahirkan dampak nyata dalam kehidupan. Bukan hanya ritual, tetapi perubahan perilaku.
Dalam konteks kekinian, tantangan semakin kompleks. Media sosial menghadirkan ruang baru bagi ekspresi keagamaan. Silaturahmi tidak lagi hanya tatap muka, tetapi juga melalui pesan digital. Ini memudahkan, tetapi sekaligus berpotensi mereduksi makna.
Saya melihat bagaimana Lebaran sering menjadi ruang representasi. Orang menampilkan kebahagiaan, keberhasilan, dan kemapanan. Tidak salah, tetapi ketika itu menjadi orientasi utama, maka dimensi spiritual semakin terpinggirkan.
Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits riwayat Muslim bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi melihat hati dan amal. Ini ukuran yang sangat berbeda dengan standar sosial yang sering kita gunakan hari ini.
Di sinilah relevansi refleksi Idul Fitri menjadi penting. Kita tidak cukup hanya merayakan, tetapi perlu mengevaluasi. Apakah Ramadan benar meninggalkan jejak dalam diri kita?
Jika setelah Ramadan kita lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli, maka Idul Fitri memiliki makna. Namun jika yang berubah hanya tampilan luar, maka kita perlu jujur mengakui bahwa yang kita jalani baru sebatas seremoni.
Para ulama klasik selalu menekankan kesinambungan amal. Amal terbaik bukan yang besar sesaat, tetapi yang konsisten. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meski sedikit.
Artinya, ujian sesungguhnya bukan pada Ramadan, tetapi setelahnya. Idul Fitri bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk menjaga kualitas diri.
Saya sampai pada satu kesadaran sederhana. Kembali suci bukan peristiwa otomatis. Ia adalah hasil dari kesungguhan menjaga nilai. Lebaran bisa menjadi momentum perubahan, tetapi juga bisa berhenti sebagai rutinitas tahunan.
Pilihan itu tidak ditentukan oleh suasana di luar, tetapi oleh kesediaan kita untuk terus memperbaiki diri setelah Ramadan berlalu.
Taqabballahu Minna wa minkum
Wallahu a’lamu
Gedung Pusat Kajian Islam, Jalan Veteran II No. 2, Selabatu, Cikole, Gunungparang, Kec. Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43111
